yoewessss,..ngene iki urep dadi KuNgYan,...
kerjo belingsatan,....gyak duwe aturan,.......kerjo berjam-jam gak enek batesan,.........g perduli bengi atao awan,.........rasane awak koyo remok pisan,...:((
yo Alloh,.....
suwe-suwe,....gak kroso umur wes likuran,....
kapan ape leren,, lesean,.......
lawong asile entek embuh kanggo paran,......
ato kadang cuma dadi sasaran,..????
kejahatan,...
ato,...
sejenise,....pemerasan dengan sangat berperasaan,....
wes embuh g keruan,.....
aku dewe bingung,..malah dadi pikiran,............
nambah-nambahi beban,.....
wes uurep dewean,..........adoooooh sak paran-paran,....
ilaaaaaaaaaaang,........
wes,.......pasrah nag Gusti Pengeran,...
^_^.....:)
Rabu, 14 Juli 2010
Minggu, 04 Juli 2010
The VIrgin n THe selaput dara
Diceritakan oleh Prof Dr Junizaf, SpOG(K), pernah ada pria memeriksakan istri yang baru beberapa hari dinikahi karena di malam pertama mereka tidak setetes darah pun keluar dari vagina. la merasa tertipu dan mengira keperawanan sang istri sudah hilang sebelum ia menikahinya.
Melalui pemeriksaan, uroginekolog dari FKUI RSCM ini justru mendapati yang sebaliknya. "Selaput dara wanita sangat liat sehingga belum berhasil ditembus di malam pertama mereka," tuturnya. Dan setelah mendapat penjelasan yang benar, pria itu pun memahami kekeliruannya dan mengurungkan niat menceraikan istri barunya itu.
Ketidaktahuan soal keperawanan dan organ reproduksi tak hanya terjadi pada pria. Banyak wanita juga masih memiliki pengetahuan yang sangat minim. Tak heran, redaksi kerap menerima pertanyaan, "Apa berhubungan seks sekali saja, keperawanan bisa hilang?", "Bisakah hamil kalau hubungan intim hanya satu kali?", "Apakah memasukkan jari ke vagina bisa merusak selaput dara?", "Mengapa tidak keluar darah waktu pertama kali berhubungan?" Dan ada banyak pertanyaan serupa.
Bisa robek tanpa seks
Memang tidak mudah menilai keperawanan karena banyak hal yang bisa ikut memengaruhi. Ditegaskan oleh Dr Budi ML, SpOG, dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Jatisampurna, virginitas tak bisa diukur dari robeknya selaput dara. Tak bisa juga dilihat secara kasat mata melalui ciri-ciri fisik seperti payudara turun atau pinggul yang mengendur.
"Keperawanan harus dilihat dan diperiksa melalui tes medis yang dilakukan oleh dokter ahli. Tidak bisa dilihat dari fisik saja," ucapnya kepada GHS.
Memang masih terus beredar mitos di kalangan remaja maupun orang dewasa bahwa wanita yang sudah tidak perawan dapat diketahui dari tanda-tanda fisiknya, seperti pantat turun, payudara mengendur, atau cara berjalan yang tidak lagi lurus.
Menurut Dr Budi, mitos tersebut sebenarnya keliru, tetapi karena telanjur diyakini oleh sebagian masyarakat, seolah-olah benar. Begitu juga dengan mitos keperawanan yang diukur dari perdarahan yang timbul akibat pecahnya selaput dara.
"Selama ini masyarakat berpendapat bahwa keperawanan seseorang akan hilang ketika berhubungan seksual, yang menyebabkan pecahnya selaput dara. Padahal, selaput dara kondisinya berbeda antara satu wanita dengan lainnya," ujarnya.
Ada selaput dara yang tipis sehingga lebih mudah robek atau pecah. Ada pula selaput dara yang sangat kuat atau liat sehingga tidak mudah pecah. Yang perlu dipahami juga, pecahnya selaput dara tidak harus melalui hubungan seksual saja.
"Aktivitas olahraga seperti senam, benturan karena jatuh, dan lainnya juga bisa menyebabkan selaput dara sobek," tuturnya. Penggunaan tampon saat menstruasi juga dapat menyebabkan selaput dara robek.
Elastisitasnya berbeda
Jenis selaput dara juga beragam. Jika selaput dara kaya akan pembuluh darah, otomatis ketika pecah akan terjadi perdarahan cukup banyak. "Sebaliknya, jika selaput dara tersebut tidak memiliki pembuluh darah, otomatis ketika pecah juga tidak berdarah," ucap Dr Budi.
Jadi, perdarahan pada saat hubungan seksual tidak bisa dijadikan tolok ukur menilai keperawanan seorang wanita. Justru perdarahan bisa saja terjadi karena pengencangan atau ketegangan pada vagina, yang sering disebut kelainan vaginismus, pada saat hubungan seksual. Kondisi ini menandakan si wanita tidak bisa menikmati hubungan intim, malah bisa saja ia merasa sakit dan tersiksa.
Bila kedua pasangan dapat menikmati hubungan seksual dengan baik sehingga tidak menimbulkan ketegangan pada vagina, kemungkinan terjadi perdarahan sangat kecil, malah mungkin sama sekali tidak terjadi. Itu artinya, tambah Dr Budi, tak hanya suami yang menikmati hubungan seksual tersebut, tetapi istri juga bisa menikmatinya.
Selaput dara, lanjutnya, berupa lipatan mukosa tipis yang mengelilingi jalan masuk vagina. Terdapat beberapa bentuk dan berbeda pada tiap wanita, serta memiliki elastisitas yang berlainan pula.
Itu sebabnya tidak semua wanita mengeluarkan darah pada saat hubungan seksual pertama. Ada yang baru keluar setelah beberapa kali berhubungan, bahkan ada yang tidak keluar darah sama sekali.
"Jangan heran jika ada wanita yang telah berulang kali melakukan hubungan seksual, namun sama sekali tidak pernah keluar darah," tutur dokter spesialis kebidanan dan kandungan ini. (GHS/put/rin)
WAH,.....PERLU DI KAJI ULANG PENGETAHUANKU!!!
Melalui pemeriksaan, uroginekolog dari FKUI RSCM ini justru mendapati yang sebaliknya. "Selaput dara wanita sangat liat sehingga belum berhasil ditembus di malam pertama mereka," tuturnya. Dan setelah mendapat penjelasan yang benar, pria itu pun memahami kekeliruannya dan mengurungkan niat menceraikan istri barunya itu.
Ketidaktahuan soal keperawanan dan organ reproduksi tak hanya terjadi pada pria. Banyak wanita juga masih memiliki pengetahuan yang sangat minim. Tak heran, redaksi kerap menerima pertanyaan, "Apa berhubungan seks sekali saja, keperawanan bisa hilang?", "Bisakah hamil kalau hubungan intim hanya satu kali?", "Apakah memasukkan jari ke vagina bisa merusak selaput dara?", "Mengapa tidak keluar darah waktu pertama kali berhubungan?" Dan ada banyak pertanyaan serupa.
Bisa robek tanpa seks
Memang tidak mudah menilai keperawanan karena banyak hal yang bisa ikut memengaruhi. Ditegaskan oleh Dr Budi ML, SpOG, dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Jatisampurna, virginitas tak bisa diukur dari robeknya selaput dara. Tak bisa juga dilihat secara kasat mata melalui ciri-ciri fisik seperti payudara turun atau pinggul yang mengendur.
"Keperawanan harus dilihat dan diperiksa melalui tes medis yang dilakukan oleh dokter ahli. Tidak bisa dilihat dari fisik saja," ucapnya kepada GHS.
Memang masih terus beredar mitos di kalangan remaja maupun orang dewasa bahwa wanita yang sudah tidak perawan dapat diketahui dari tanda-tanda fisiknya, seperti pantat turun, payudara mengendur, atau cara berjalan yang tidak lagi lurus.
Menurut Dr Budi, mitos tersebut sebenarnya keliru, tetapi karena telanjur diyakini oleh sebagian masyarakat, seolah-olah benar. Begitu juga dengan mitos keperawanan yang diukur dari perdarahan yang timbul akibat pecahnya selaput dara.
"Selama ini masyarakat berpendapat bahwa keperawanan seseorang akan hilang ketika berhubungan seksual, yang menyebabkan pecahnya selaput dara. Padahal, selaput dara kondisinya berbeda antara satu wanita dengan lainnya," ujarnya.
Ada selaput dara yang tipis sehingga lebih mudah robek atau pecah. Ada pula selaput dara yang sangat kuat atau liat sehingga tidak mudah pecah. Yang perlu dipahami juga, pecahnya selaput dara tidak harus melalui hubungan seksual saja.
"Aktivitas olahraga seperti senam, benturan karena jatuh, dan lainnya juga bisa menyebabkan selaput dara sobek," tuturnya. Penggunaan tampon saat menstruasi juga dapat menyebabkan selaput dara robek.
Elastisitasnya berbeda
Jenis selaput dara juga beragam. Jika selaput dara kaya akan pembuluh darah, otomatis ketika pecah akan terjadi perdarahan cukup banyak. "Sebaliknya, jika selaput dara tersebut tidak memiliki pembuluh darah, otomatis ketika pecah juga tidak berdarah," ucap Dr Budi.
Jadi, perdarahan pada saat hubungan seksual tidak bisa dijadikan tolok ukur menilai keperawanan seorang wanita. Justru perdarahan bisa saja terjadi karena pengencangan atau ketegangan pada vagina, yang sering disebut kelainan vaginismus, pada saat hubungan seksual. Kondisi ini menandakan si wanita tidak bisa menikmati hubungan intim, malah bisa saja ia merasa sakit dan tersiksa.
Bila kedua pasangan dapat menikmati hubungan seksual dengan baik sehingga tidak menimbulkan ketegangan pada vagina, kemungkinan terjadi perdarahan sangat kecil, malah mungkin sama sekali tidak terjadi. Itu artinya, tambah Dr Budi, tak hanya suami yang menikmati hubungan seksual tersebut, tetapi istri juga bisa menikmatinya.
Selaput dara, lanjutnya, berupa lipatan mukosa tipis yang mengelilingi jalan masuk vagina. Terdapat beberapa bentuk dan berbeda pada tiap wanita, serta memiliki elastisitas yang berlainan pula.
Itu sebabnya tidak semua wanita mengeluarkan darah pada saat hubungan seksual pertama. Ada yang baru keluar setelah beberapa kali berhubungan, bahkan ada yang tidak keluar darah sama sekali.
"Jangan heran jika ada wanita yang telah berulang kali melakukan hubungan seksual, namun sama sekali tidak pernah keluar darah," tutur dokter spesialis kebidanan dan kandungan ini. (GHS/put/rin)
WAH,.....PERLU DI KAJI ULANG PENGETAHUANKU!!!
Senin, 21 Juni 2010
Sok Paling Kuasa Vs Realitas
Sigmund Freud, pionir dan pakar psikoanalisis, mendasarkan pemahaman perbedaan karakter jender pada perbedaan bentuk dan fungsi organ tubuh manusia, terutama pada alat kelaminnya.
Kepemilikan penis pada lelaki mendorong posisi lelaki lebih tinggi, lebih perkasa, dan lebih dominan dibandingkan dengan perempuan. Oleh karena itu, kecemburuan perempuan akan kepemilikan penis yang disebut dengan istilah penis envy pada lelaki dikompensasikan melalui kemampuan perempuan melahirkan bayi.
Tetap saja kompensasi tersebut tidak menurunkan posisi keperkasaan lelaki di hadapan perempuan. Dari bukti tatanan budaya manusia pada umumnya pun, posisi suami diletakkan lebih tinggi dari perempuan. Ungkapan lelaki pencari nafkah, pengayom keluarga, lelaki harus diladeni, lelaki penentu keputusan dalam keluarga, lelaki ”seolah” mendapat pembenaran budaya untuk bersikap dominan dalam keluarga. Lelaki harus dihargai dan dibenarkan dengan cara apa pun untuk mempertahankan tingginya harga dirinya dalam keluarga; lelaki selingkuh bahkan melakukan poligami tanpa seizin istri seyogianya dimaafkan; perempuan selingkuh harus diceraikan dan sebagainya.
Ekses lanjut dari posisi tersebut, lelaki-suami sulit sekali meminta maaf bila bersalah, mau menang sendiri dan berbuat semena-mena, tanpa mempertimbangkan perasaan perempuan-istri. Posisi perempuan pun disudutkan ke dalam posisi harus patuh, menurut, harus bersikap rendah hati, bahkan kalau mungkin rendah diri, dan sangat populer disebut sebagai ”konco wingking” atau teman yang posisinya di belakang, seperti di sumur, dapur, kasur. Ungkapan-ungkapan tersebut terkesan dipegang teguh lelaki hingga saat ini walaupun sering kenyataan hidup yang dijalani sebenarnya berlawanan.
Era perempuan
Sementara itu, J Naisbitt meramalkan bahwa abad ke-21 adalah era perempuan. Ramalan tersebut telah pula menjadi kenyataan, saat ini kebanyakan perempuan berkeluarga, berkarya dan sekaligus berkarier, yang membuka peluang bagi perempuan untuk memperoleh penghasilan lebih tinggi, karya yang lebih berkualitas, dan karier yang lebih tinggi.
Sementara itu, justru dengan kondisi sosial-ekonomi yang dilanda krisis belakangan ini lelaki banyak yang terkena PHK, atau memang pada dasarnya malas berusaha dan menikmati hidup sebagai penganggur dan membiarkan perempuan-istri jungkir balik memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Ironisnya, ungkapan-ungkapan keperkasaan tersebut tetap dipertahankan dan berlanjut dicari pembenarannya, lelaki-suami ingin diladeni lahir-batin, ingin diistimewakan, ingin di nomorsatukan dalam kehidupan berkeluarga.
Ny I (39)
”Ibu, saya telah 16 tahun menikah dengan satu anak laki-laki. Saya bekerja di sebuah perusahaan swasta sejak belum menikah hingga saat ini. Pada awal pernikahan sebenarnya suami saya bekerja di satu kementerian sebagai PNS. Setelah 2 tahun pernikahan, suami mengundurkan diri dari PNS dengan motif mau usaha sendiri dengan alasan PNS gajinya kecil.
Sebetulnya saat itu saya kurang setuju karena kami tidak punya modal usaha, tetapi dia bersikeras sehingga saya tidak berdaya untuk menahannya. Tapi, sejak keluar dari pekerjaannya, saat saya pagi-pagi berangkat ke kantor, dia masih tidur, terkadang saya coba membangunkan untuk shalat subuh, tapi dia marah dan langsung tidur lagi, saya tidak tahu jam berapa dia bangun.
Tentu saja kondisi tersebut membuat saya merasa lebih daripada suami dan tanpa sadar saya memang mendominasi kehidupan keluarga. Segala keputusan saya yang ambil karena saya adalah pencari uang keluarga. Namun, dalam tiga bulan terakhir ini saya menemukan SMS dalam HP suami yang berasal dari perempuan yang memang saat suami mahasiswa tertarik pada suami. Sebenarnya perempuan itu sudah bersuami dan kondisi sosial ekonomi suaminya pun sangat mapan.
Saya terkejut dan saya sadar sekali bahwa selama ini saya sudah memperlakukan suami tidak sesuai dengan kodrat saya sebagai istri. Saya langsung minta maaf dan mengubah sikap. Saya tidak pernah berani marah lagi, saya ladeni dia lahir-batin, saya turuti kemauannya, saya takut sekali kehilangan suami dan memohon agar dia memutuskan hubungan dengan perempuan yang bersuami tersebut.
Tapi, apa reaksinya, ”Aku masih sakit hati dengan perlakuanmu dulu. Aku perlu waktu untuk memaafkan kamu. Aku juga tidak maksud apa pun dengan perempuan itu, dia hanya minta nasihat, curhat, dan aku pun tidak pernah menemuinya. Tidak ada niatku untuk menghubungi dia. Jadi tunggulah aku suatu saat pun akan menghentikan hubungan melalui SMS ini”, dengan marah dan keras suaranya.
Bu, suami saya mengatakan bahwa ia akan jujur dan terbuka tentang hubungan lewat SMS itu pada saya. Hal itu dibuktikan saat bepergian dengan saya dan dia sedang menyopir mobil, bila datang SMS dari perempuan itu, sambil menyetir pun dia langsung membalas SMS, tanpa memedulikan perasaan saya.
Sakit hati saya, Bu, dan kalau saya menangis, dia marah, membentak, ”Apa, sih yang ditangisi, kan aku bilang tidak ada apa-apa antara aku dengan perempuan itu. Aku bosan membicarakan masalah ini”.
Ibu, saya sakit hati sekali, saya sering menangis, saya tidak bisa tidur nyenyak dan selera makan saya pun hilang, berat badan saya turun 5 kilogram.”
Analisis ”sense of mastery ”
Tampak jelas bahwa Tn I amat mempertahankan posisi sebagai master dalam keluarga sehingga sikap istri yang mendominasi membuat dirinya sakit hati berlanjut. Namun, rasa sakit hatinya tidak diikuti dengan usaha yang kuat dan keras untuk mengambil alih posisi istri sebagai pencari nafkah keluarga, bahkan tampak tetap bermalas-malasan.
Kehadiran perempuan beristri selama 3 bulan terakhir ini, melalui SMS, menjadi senjata ampuh untuk membalas dendam terhadap perlakuan istri yang dirasa tidak menghargai posisinya sebagai ”suami” beberapa tahun berlalu, tanpa menyadari bahwa peran suami yang seyogianya dia mampu sama sekali tidak dilakukannya
Kehadiran perempuan bersuami yang mengirim SMS menjadi penguat kecenderung Tn I untuk tetap membenarkan posisi master dalam kehidupan berkeluarga.
Jadi, masih bijakkah sikap kita terhadap masalah sense of mastery dalam era masa kini untuk tetap dibenarkan dan dipertahankan? Mengapa tidak mulai menempatkan posisi suami-istri sebagai mitra sejajar yang saling menghormati dan menghargai serta saling mengasihi tanpa pretensi apa pun, satu sama lain?
Sawitri Supardi Sadarjoen, psikolog
Kepemilikan penis pada lelaki mendorong posisi lelaki lebih tinggi, lebih perkasa, dan lebih dominan dibandingkan dengan perempuan. Oleh karena itu, kecemburuan perempuan akan kepemilikan penis yang disebut dengan istilah penis envy pada lelaki dikompensasikan melalui kemampuan perempuan melahirkan bayi.
Tetap saja kompensasi tersebut tidak menurunkan posisi keperkasaan lelaki di hadapan perempuan. Dari bukti tatanan budaya manusia pada umumnya pun, posisi suami diletakkan lebih tinggi dari perempuan. Ungkapan lelaki pencari nafkah, pengayom keluarga, lelaki harus diladeni, lelaki penentu keputusan dalam keluarga, lelaki ”seolah” mendapat pembenaran budaya untuk bersikap dominan dalam keluarga. Lelaki harus dihargai dan dibenarkan dengan cara apa pun untuk mempertahankan tingginya harga dirinya dalam keluarga; lelaki selingkuh bahkan melakukan poligami tanpa seizin istri seyogianya dimaafkan; perempuan selingkuh harus diceraikan dan sebagainya.
Ekses lanjut dari posisi tersebut, lelaki-suami sulit sekali meminta maaf bila bersalah, mau menang sendiri dan berbuat semena-mena, tanpa mempertimbangkan perasaan perempuan-istri. Posisi perempuan pun disudutkan ke dalam posisi harus patuh, menurut, harus bersikap rendah hati, bahkan kalau mungkin rendah diri, dan sangat populer disebut sebagai ”konco wingking” atau teman yang posisinya di belakang, seperti di sumur, dapur, kasur. Ungkapan-ungkapan tersebut terkesan dipegang teguh lelaki hingga saat ini walaupun sering kenyataan hidup yang dijalani sebenarnya berlawanan.
Era perempuan
Sementara itu, J Naisbitt meramalkan bahwa abad ke-21 adalah era perempuan. Ramalan tersebut telah pula menjadi kenyataan, saat ini kebanyakan perempuan berkeluarga, berkarya dan sekaligus berkarier, yang membuka peluang bagi perempuan untuk memperoleh penghasilan lebih tinggi, karya yang lebih berkualitas, dan karier yang lebih tinggi.
Sementara itu, justru dengan kondisi sosial-ekonomi yang dilanda krisis belakangan ini lelaki banyak yang terkena PHK, atau memang pada dasarnya malas berusaha dan menikmati hidup sebagai penganggur dan membiarkan perempuan-istri jungkir balik memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Ironisnya, ungkapan-ungkapan keperkasaan tersebut tetap dipertahankan dan berlanjut dicari pembenarannya, lelaki-suami ingin diladeni lahir-batin, ingin diistimewakan, ingin di nomorsatukan dalam kehidupan berkeluarga.
Ny I (39)
”Ibu, saya telah 16 tahun menikah dengan satu anak laki-laki. Saya bekerja di sebuah perusahaan swasta sejak belum menikah hingga saat ini. Pada awal pernikahan sebenarnya suami saya bekerja di satu kementerian sebagai PNS. Setelah 2 tahun pernikahan, suami mengundurkan diri dari PNS dengan motif mau usaha sendiri dengan alasan PNS gajinya kecil.
Sebetulnya saat itu saya kurang setuju karena kami tidak punya modal usaha, tetapi dia bersikeras sehingga saya tidak berdaya untuk menahannya. Tapi, sejak keluar dari pekerjaannya, saat saya pagi-pagi berangkat ke kantor, dia masih tidur, terkadang saya coba membangunkan untuk shalat subuh, tapi dia marah dan langsung tidur lagi, saya tidak tahu jam berapa dia bangun.
Tentu saja kondisi tersebut membuat saya merasa lebih daripada suami dan tanpa sadar saya memang mendominasi kehidupan keluarga. Segala keputusan saya yang ambil karena saya adalah pencari uang keluarga. Namun, dalam tiga bulan terakhir ini saya menemukan SMS dalam HP suami yang berasal dari perempuan yang memang saat suami mahasiswa tertarik pada suami. Sebenarnya perempuan itu sudah bersuami dan kondisi sosial ekonomi suaminya pun sangat mapan.
Saya terkejut dan saya sadar sekali bahwa selama ini saya sudah memperlakukan suami tidak sesuai dengan kodrat saya sebagai istri. Saya langsung minta maaf dan mengubah sikap. Saya tidak pernah berani marah lagi, saya ladeni dia lahir-batin, saya turuti kemauannya, saya takut sekali kehilangan suami dan memohon agar dia memutuskan hubungan dengan perempuan yang bersuami tersebut.
Tapi, apa reaksinya, ”Aku masih sakit hati dengan perlakuanmu dulu. Aku perlu waktu untuk memaafkan kamu. Aku juga tidak maksud apa pun dengan perempuan itu, dia hanya minta nasihat, curhat, dan aku pun tidak pernah menemuinya. Tidak ada niatku untuk menghubungi dia. Jadi tunggulah aku suatu saat pun akan menghentikan hubungan melalui SMS ini”, dengan marah dan keras suaranya.
Bu, suami saya mengatakan bahwa ia akan jujur dan terbuka tentang hubungan lewat SMS itu pada saya. Hal itu dibuktikan saat bepergian dengan saya dan dia sedang menyopir mobil, bila datang SMS dari perempuan itu, sambil menyetir pun dia langsung membalas SMS, tanpa memedulikan perasaan saya.
Sakit hati saya, Bu, dan kalau saya menangis, dia marah, membentak, ”Apa, sih yang ditangisi, kan aku bilang tidak ada apa-apa antara aku dengan perempuan itu. Aku bosan membicarakan masalah ini”.
Ibu, saya sakit hati sekali, saya sering menangis, saya tidak bisa tidur nyenyak dan selera makan saya pun hilang, berat badan saya turun 5 kilogram.”
Analisis ”sense of mastery ”
Tampak jelas bahwa Tn I amat mempertahankan posisi sebagai master dalam keluarga sehingga sikap istri yang mendominasi membuat dirinya sakit hati berlanjut. Namun, rasa sakit hatinya tidak diikuti dengan usaha yang kuat dan keras untuk mengambil alih posisi istri sebagai pencari nafkah keluarga, bahkan tampak tetap bermalas-malasan.
Kehadiran perempuan beristri selama 3 bulan terakhir ini, melalui SMS, menjadi senjata ampuh untuk membalas dendam terhadap perlakuan istri yang dirasa tidak menghargai posisinya sebagai ”suami” beberapa tahun berlalu, tanpa menyadari bahwa peran suami yang seyogianya dia mampu sama sekali tidak dilakukannya
Kehadiran perempuan bersuami yang mengirim SMS menjadi penguat kecenderung Tn I untuk tetap membenarkan posisi master dalam kehidupan berkeluarga.
Jadi, masih bijakkah sikap kita terhadap masalah sense of mastery dalam era masa kini untuk tetap dibenarkan dan dipertahankan? Mengapa tidak mulai menempatkan posisi suami-istri sebagai mitra sejajar yang saling menghormati dan menghargai serta saling mengasihi tanpa pretensi apa pun, satu sama lain?
Sawitri Supardi Sadarjoen, psikolog
Langganan:
Postingan (Atom)